Perhatian masyarakat Indonesia selama sepekan terakhir ini tertuju kepada peristiwa Tragedi Tugu Tani. Peristiwa kecelakaan maut yang menewaskan 9 orang dan melukai beberapa orang lainnya ini terbilang sangat tragis. Polisi mendapatkan fakta bahwa pengendara mobil tengah berada dalam pengaruh obat terlarang saat kejadian berlangsung. Lebih mengecewakan lagi bahwa pelaku pengendara mobil maut, Afriyani Susanti, seolah merasa tidak bersalah karena telah menghilangkan 9 nyawa manusia. Baru belakangan ini pelaku menyatakan permohonan maaf kepada keluarga korban.
Sikap prihatin, kritikan dan hujatan datang dari masyarakat Indonesia atas aksi brutal wanita bertubuh gemuk tersebut. Bahkan terdapat sekelompok pengguna internet di halaman Facebook yang menuntut hukuman mati untuk Afriyani yang berprofesi sebagai freelancer bisnis entertainment. Tak pelak lagi, Tragedi Tugu Tani menimbulkan persepsi negatif di kalangan masyarakat terhadap profesi freelancer atau pekerja lepas. Mereka beranggapan bahwa freelancer tak ubahnya dengan karakter Afriani yang memiliki penghasilan tidak menentu tetapi doyan mabuk, dugem dan konsumsi narkoba.
Pada dasarnya, profesi freelancer tak ubahnya dengan profesi lain. Ada yang mampu menjalankan pola hidup sehat dan menghindarkan diri dari narkoba. Namun ada pula yang terpengaruh lingkungan hedonis dan terjerumus ke dalam pergaulan bebas. Sisi negatif lain yang diberikan kepada pekerja freelancer adalah mengenai penghasilan yang tidak tetap. Freelancer yang fulltime maupun part time memang tidak terikat kontrak dalam bekerja. Meski demikian, pada umumnya mereka memiliki cadangan dana untuk mengamankan kebutuhan finansial mereka.
Menyamaratakan semua freelancer berperilaku seperti Afriyani Susanti bukanlah pemikiran yang tepat. Produktifitas bekerja, motivasi diri dan tingkah laku setiap freelancer berbeda. Hal tersebut dipengaruhi oleh pengalaman masa lalu, kondisi perekonomian saat ini dan impian-impian yang ingin mereka wujudkan di masa depan. Kita tetap berharap bahwa tidak akan ada lagi Tragedi Tugu Tani berikutnya sehingga tidak merugikan berbagai pihak. Dengan demikian setiap freelancer bisa bekerja dengan nyaman tanpa pandangan negatif karena khawatir menganggu aktifitas masyarakat sekitar.
Bagaimana dengan tanggapan Anda terhadap profesi freelancer? Apakah lingkungan tempat tinggal Anda memberi label buruk terhadap pekerja lepas? Silakan berbagi pengalaman di kolom komentar.






Saya setuju, tentu saja hanya segelintir orang yang berprofesi sebagai freelancer seperti Afriani Susanti.
Admin Direktori Blog recently posted..SMA Negeri 1 Ciasem Subang
ahh itu sih memang dasar orang2 berfikiran pendek saja.. masa hanya krn satu orang jadi mikir semua para freelancer spt itu payah sekali pola pikirnya.
Enny Law recently posted..Custom Domain Blogspot Gratis
menarik sekali bahasannya.
kunjungi juga.
saya malah baru denger kalo tragedi itu jadi merembet ke profesi freelance
saya sangat prihatin dengan kejadia itu…sunguh sangat na’as sekali..
obat herbal xamthone plus recently posted..Obat herbal stroke
Artikel penulis lepas yang bagus.